Monday, July 23, 2012

Morfologi dan Klasifikasi Tanaman Padi (Oryza sativa


Morfologi dan Klasifikasi Tanaman Padi (Oryza sativa)

1. Taksonomi Tanaman Padi.
Berdasarkan literatur Grist (1960), padi dalam sistematika tumbuhan diklasifikasikan kedalam
Divisio             : Spermatophyta
Sub divisio      : Angiospermae
Kelas              : Monocotyledoneae,
Ordo                : Poales,
Famili              : Graminae
Genus              : Oryza Linn
Species            : Oryza sativa L.

2. Morfologi Tanaman Padi.
2.1. Akar.
Berdasarkan literatur Aak (1992) akar adalah bagian tanaman yang berfungsi menyerap air dan zat makanan dari dalam tanah, kemudian diangkut ke bagian atas tanaman. Akar tanaman padi dapat dibedakan atas :
a)      Radikula; akar yang tumbuh pada saat benih berkecambah. Pada benih yang sedang berkecambah timbul calon akar dan batang. Calon akar mengalami pertumbuhan ke arah bawah sehingga terbentuk akar tunggang, sedangkan calon batang akan tumbuh ke atas sehingga terbentuk batang dan daun.
b)      Akar serabut (akaradventif); setelah 5-6 hari terbentuk akar tunggang, akar serabut akan tumbuh.
c)      Akar rambut ; merupakan bagian akar yang keluar dari akar tunggang dan akar serabut. Akar ini merupakan saluran pada kulit akar yang berada diluar, dan ini penting dalam pengisapan air maupun zat-zat makanan. Akar rambut biasanya berumur pendek sedangkan bentuk dan panjangnya sama dengan akar serabut.
d)     Akar tajuk (crown roots) ;adalah akar yang tumbuh dari ruas batang terendah. Akar tajuk ini dibedakan lagi berdasarkan letak kedalaman akar di tanah yaitu akar yang dangkal dan akar yang dalam. Apabila kandungan udara di dalam tanah rendah,maka akar-akar dangkal mudah berkembang.

Gambar . Pertumbuhan akar padi
Bagian akar yang telah dewasa (lebih tua) dan telah mengalami perkembangan akan berwarna coklat, sedangkan akar yangbaru atau bagian akar yangmasih muda berwarna putih.
2.2. Batang.
Padi termasuk golongan tumbuhan Graminae dengan batang yang tersusun dari beberapa ruas. Ruas-ruas itu merupakan bubung kosong. Pada kedua ujung bubung kosong itu bubungnya ditutup oleh buku. Panjangnya ruas tidak sama. Ruas yang terpendek terdapat pada pangkal batang. Ruas yang kedua, ruas yang ketiga, dan seterusnya adalah lebih panjang daripada ruas yang didahuluinya. Pada buku bagian bawah dari ruas tumbuh daun pelepah yangmembalut ruas sampai buku bagian atas.Tepat pada buku bagian atas ujumg dari daun pelepah memperlihatkan percabangan dimana cabang yang terpendek menjadi ligula (lidah) daun, dan bagian yamg terpanjang dan terbesar menjadi daun kelopak yang memiliki bagian auricle pada sebelah kiri dan kanan. Daun kelopak yang terpanjang dan membalut ruas yang paling atas dari batang disebut daunbendera. Tepat dimana daun pelepah teratas menjadi ligula dan daun bendera, di situlah timbul ruas yang menjadi bulir padi.
            Pertumbuhan batang tanaman padi adalah merumpun, dimana terdapat satu batang tunggal/batang utama yang mempunyai 6 mata atau sukma, yaitu sukma 1, 3, 5 sebelah kanan dan sukma 2, 4, 6 sebelah kiri. Dari tiap-tiap sukma ini timbul tunas yang disebut tunasorde pertama.

Gambar.  Pertumbuhan daun dan batang padi
Tunas orde pertama tumbuhnya didahului oleh tunas yang tumbuh dari sukma pertama, kemudian diikuti oleh sukma kedua, disusul oleh tunas yang timbul dari sukma ketiga dan seterusnya sampai kepad apembentukan tunas terakhir yang keenam pada batang tunggal.Tunas-tunas yang timbul dari tunas orde pertama disebu ttunas orde kedua. Biasanya dari tunas-tunas orde pertama ini yang menghasilkan tunas-tunas orde kedua ialah tunas orde pertama yang terbawah sekali pada batang tunggal/ utama. Pembentukan tunas dari orde ketiga pada umunya tidak terjadi,oleh karena tunas-tunas dari orde ketiga tidak mempunyai ruang hidup dalam kesesakan dengan tunas-tunas dari orde pertama dan kedua.
2.3. Daun.
Padi termasuk tanaman jenis rumput-rumputan mempunyai daun yang berbeda-beda, baik bentuk, susunan, atau bagian bagiannya. Ciri khas daun padi adalah adanya sisik dan telinga daun. Hal inilah yang menyebabkan daun padi dapat dibedakan dari jenis rumput yang lain. Adapun bagian-bagian daun padi adalah :
a)      Helaian daun ; terletak pada batang padi dan selalu ada. Bentuknya memanjang seperti pita. Panjang dan lebar helaian daun tergantung varietas padi yang bersangkutan.
b)      Pelepah daun (upih) ;merupakan bagian daun yang menyelubungi batang, pelepah daun ini berfungsi memberi dukungan pada bagian ruas yang jaringannya lunak, dan hal ini selalu terjadi.
c)      Lidah daun ; lidah daun terletak pada perbatasan antara helai daun dan upih. Panjang lidah daun berbeda-beda, tergantung pada varietas padi. Lidah daun duduknya melekat pada batang. Fungsi lidah daun adalah mencegah masuknya air hujan diantara batang dan pelepah daun (upih). Disamping itu lidah daun juga mencegah infeksi penyakit, sebab media air memudahkan penyebaran penyakit.
Daun yang muncul pada saat terjadi perkecambahan dinamakan coleoptile. Koleopti lkeluar dari benih yang disebar dan akan memanjang terus sampai permukaan air. koleoptil baru membuka, kemudian diikuti keluarnya daun pertama, daun kedua dan seterusnya hingga mencapai puncak yang disebut daun bendera, sedangkan daun terpanjang biasanya pada daun ketiga. Daun bendera merupakan daun yang lebih pendek daripada daun-daun di bawahnya, namun lebih lebar dari pada daun sebelumnya. Daun bendera ini terletak di bawah malai padi. Daun padi mula-mula berupa tunas yang kemudian berkembang menjadi daun. Daun pertama pada batang keluar bersamaan dengan timbulnya tunas (calon daun) berikutnya. Pertumbuhan daun yang satu dengan daun berikutnya (daun baru) mempunyai selang waktu 7 hari,dan 7 hari berikutnya akan muncul daun baru lainnya.

Gambar 50 Bagian daun tanaman padi
2.4. Bunga.
Sekumpulan bunga padi (spikelet) yang keluar dari buku paling atas dinamakan malai. Bulir-bulir padi terletak pada cabang pertama dan cabang kedua, sedangkan sumbu utama malai adalah ruas buku yang terakhir pada batang. Panjang malai tergantung pada varietas padi yang ditanam dancara bercocok tanam. Dari sumbu utama pada ruas buku148yang terakhir inilah biasanya panjang malai (rangkaian bunga) diukur. Panjang malai dapat dibedakan menjadi 3 ukuran yaitu malai pendek (kurang dari 20 cm), malai sedang (antara 20-30 cm), dan malai panjang (lebih dari 30cm). Jumlah cabang pada setiap malai berkisar antara 15-20 buah, yang paling rendah 7 buah cabang, dan yang terbanyak dapat mencapai 30 buah cabang. Jumlah cabang ini akan mempengaruhi besarnya rendemen tanaman padi varietas baru, setiap malai bisa mencapai100-120 bunga (Aak, 1992).
Bunga padi adalah bunga telanjang artinya mempunyai perhiasan bunga. Berkelamin dua jenis dengan bakal buah yang diatas. Jumlah benang sari ada 6 buah, tangkai sarinya pendek dan tipis, kepala sari besar serta mempunyai dua kandung serbuk. Putik mempunyai dua tangkai putik, dengan dua buah kepala putik yang berbentuk malai dengan warna pada umumnya putih atau ungu (DepartemenPertanian, 1983).

Gambar . Bunga padi dan malai.

Komponen-komponen (bagian) bunga padi adalah:
a)      kepala sari
b)      tangkai sari,
c)      palea (belahan yang besar),
d)     lemma (belahan yang kecil),
e)      kepala putik,
f)       tangkai bunga.
2.5. Buah.
Buah padi yang sehari-hari kita sebut biji padi atau butir/gabah,sebenarnya bukan biji melainkan buah padi yang tertutup oleh lemma dan palea. Buah ini terjadi setelah selesai penyerbukkan dan pembuahan. Lemma dan palea serta bagian lain yang membentuk sekam atau kulit gabah (Departemen Pertanian, 1983).
Jika bunga padi telah dewasa, kedua belahan kembang mahkota (palea dan lemmanya) yang semula bersatu akan membuka dengan sendirinya sedemikian rupa sehingga antara lemma dan palea terjadi siku/sudut sebesar 30-600. Membukanya kedua belahan kembang mahkota itu terjadi pada umumnya pada hari-hari cerah antara jam 10-12, dimana suhu kira-kira 30-320C. Di dalam dua daun mahkota palea dan lemma itu terdapat bagian dalam dari bunga padi yang terdiri dari bakal buah (biasa disebut karyiopsis).
Jika buah padi telah masak, kedua belahan daun mahkota bunga itulah yang menjadi pembungkus berasnya (sekam). Diatas karyiopsis terdapat dua kepala putik yang dipikul oleh masing-masing tangkainya. Lodicula yang berjumlah dua buah, sebenarnya merupakan daun mahkota yang telah berubah bentuk. Pada waktu padi hendak berbunga, lodicula menjad imengembang karena menghisap cairan dari bakal buah. Pengembangan ini mendorong lemma dan palea terpisah dan terbuka. Hal ini memungkinkan benang sari yang memanjang keluar dari bagian atas atau dari samping bunga yang terbuka tadi. Terbukanya bunga diikuti dengan pecahnya kandung serbuk, yang kemudian menumpahkan tepung sarinya. Sesudah tepung sarinya ditumpahkan dari kandung serbuk maka lemma dan palea menutup kembali.   Dengan berpindahnya tepung sari dari kepala putik maka selesailah sudah proses penyerbukkan. Kemudian terjadilah pembulaian yang menghasilkan lembaga danendosperm. Endosperm adalahpenting sebagai sumbercadangan makanan bagitanaman yang baru tumbuh
(Departemen Pertanian, 

Morfologi Tanaman dan Pertumbuhan Jagung


Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung

Nuning Argo Subekti, Syafruddin, Roy Efendi, dan Sri Sunarti
Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros

PENDAHULUAN
Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/graminae yang mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan munculnya cabang anakan pada beberapa genotipe dan
lingkungan tertentu. Batang jagung terdiri atas buku dan ruas. Daun jagung tumbuh pada setiap buku, berhadapan satu sama lain. Bunga jantan terletakpada bagian terpisah pada satu tanaman sehingga lazim terjadi penyerbukan silang. Jagung merupakan tanaman hari pendek, jumlah daunnya ditentukan pada saat inisiasi bunga jantan, dan dikendalikan oleh genotipe, lama penyinaran, dan suhu.
Pemahaman morfologi dan fase pertumbuhanjagung sangat membantu dalam mengidentifikasi pertumbuhan tanaman, terkait dengan optimasi perlakukan agronomis. Cekaman air (kelebihan dan kekurangan),
cekaman hara (defisiensi dan keracunan), terkena herbisida atau serangan hama dan penyakit akan menyebabkan tanaman tumbuh tidak normal, atau tidak sesuai dengan morfologi tanaman.
Hasil dan bobot biomas jagung yang tinggi akan diperoleh jika pertumbuhan tanaman optimal. Untuk itu diperlukan pengelolaan hara, air, dan tanaman dengan tepat. Pengelolaan hara dan tanaman yang mencakup
pemupukan (waktu dan takaran), pengairan, dan pengendalian gulma harus sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman. Terdapat beberapa metode penentuan fase pertumbuhan jagung. Metode yang umum digunakan adalah metode leaf collar, yaitu menentukan fase pertumbuhan berdasarkan jumlah daun yang tidak lagi membungkus batang atau telah terbuka sempurna selama fase vegetatif, termasuk daun pertama yang muncul, round-tipped leaf. Metode penentuan fase pertumbuhan perlu diketahui dalam budi daya tanaman.
Tulisan ini membahas morfologi tanaman dan fase pertumbuhan jagung dalam kaitannya dengan upaya peningkatan produksi.


MORFOLOGI
Tanaman jagung termasuk famili rumput-rumputan (graminae) dari subfamili myadeae. Dua famili yang berdekatan dengan jagung adalah teosinte dan tripsacum yang diduga merupakan asal dari tanaman jagung.
Teosinte berasal dari Meksico dan Guatemala sebagai tumbuhan liar di daerah pertanaman jagung.
Sistem Perakaran
Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu (a) akar seminal, (b) akar adventif, dan (c) akar kait atau penyangga. 
Akar seminal adalah akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Pertumbuhan akar seminal akan melambat setelah plumula muncul ke permukaan tanah dan pertumbuhan akar seminal akan berhenti pada fase V3. 
Akar adventif adalah akar yang semula berkembang dari buku di ujung mesokotil, kemudian set akar adventif berkembang dari tiap buku secara berurutan dan terus ke atas antara 7-10 buku, semuanya di bawah permukaan tanah. Akar adventif berkembang menjadi serabut akar tebal. Akar seminal hanya sedikit
berperan dalam siklus hidup jagung. Akar adventif berperan dalam pengambilan air dan hara. Bobot total akar jagung terdiri atas 52% akar adventif seminal dan 48% akar nodal. 
Akar kait atau penyangga adalah akar adventif yang muncul pada dua atau tiga buku di atas permukaan tanah. Fungsi dari akar penyangga adalah menjaga tanaman agar tetap tegak dan mengatasi rebah batang. Akar ini juga membantu penyerapan hara dan air. Perkembangan akar jagung (kedalaman dan penyebarannya) bergantung pada varietas, pengolahan tanah, fisik dan kimia tanah, keadaan air tanah, dan pemupukan. 
Akar jagung dapat dijadikan indikator toleransi tanaman terhadap cekaman aluminium. Tanaman yang toleran aluminium, tudung akarnya terpotong dan tidak mempunyai bulu-bulu akar (Syafruddin
2002). Pemupukan nitrogen dengan takaran berbeda menyebabkan perbedaan perkembangan (plasticity) sistem perakaran jagung (Smith et al. 1995).


Batang dan Daun
Tanaman jagung mempunyai batang yang tidak bercabang, berbentuk silindris, dan terdiri atas sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang berkembang menjadi tongkol. Dua tunas teratas
berkembang menjadi tongkol yang produktif. Batang memiliki tiga komponen jaringan utama, yaitu kulit (epidermis), jaringan pembuluh (bundles vaskuler), dan pusat batang (pith). Bundles vaskuler tertata dalam
18 Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan lingkaran konsentris dengan kepadatan bundles yang tinggi, dan lingkaran lingkaran menuju perikarp dekat epidermis. Kepadatan bundles berkurang begitu mendekati pusat batang. Konsentrasi bundles vaskuler yang tinggi dibawah epidermis menyebabkan batang tahan rebah. Genotipe jagung yang mempunyai batang kuat memiliki lebih banyak lapisan jaringan sklerenkim berdinding tebal di bawah epidermis batang dan sekeliling bundles vaskuler (Paliwal 2000). Terdapat variasi ketebalan kulit antargenotipe yang dapat digunakan untuk seleksi toleransi tanaman terhadap rebah batang.
Sesudah koleoptil muncul di atas permukaan tanah, daun jagung mulai terbuka. Setiap daun terdiri atas helaian daun, ligula, dan pelepah daun yang erat melekat pada batang. Jumlah daun sama dengan jumlah buku batang. Jumlah daun umumya berkisar antara 10-18 helai, rata-rata munculnya daun yang terbuka sempurna adalah 3-4 hari setiap daun.
Tanaman jagung di daerah tropis mempunyai jumlah daun relatif lebih banyak dibanding di daerah beriklim sedang (temperate) (Paliwal 2000).
Genotipe jagung mempunyai keragaman dalam hal panjang, lebar, tebal, sudut, dan warna pigmentasi daun. Lebar helai daun dikategorikan mulai dari sangat sempit (< 5 cm), sempit (5,1-7 cm), sedang (7,1-9 cm), lebar (9,1-11 cm), hingga sangat lebar (>11 cm). Besar sudut daun mempengaruhi tipe daun. Sudut daun jagung juga beragam, mulai dari sangat kecil hingga sangat besar (Gambar 1). 


Beberapa genotipe jagung memiliki antocyanin pada helai daunnya, yang bisa terdapat pada pinggir daun atau tulang daun. Intensitas warna antocyanin pada pelepah daun bervariasi, dari sangat lemah hingga sangat kuat. Bentuk ujung daun jagung berbeda, yaitu runcing, runcing agak bulat, bulat, bulat agak tumpul, dan tumpul (Gambar 2). 


Berdasarkan letak posisi daun (sudut daun) terdapat dua tipe daun jagung, yaitu tegak (erect) dan
menggantung (pendant). Daun erect biasanya memiliki sudut antara kecil sampai sedang, pola helai daun bisa lurus atau bengkok. Daun pendant umumnya memiliki sudut yang lebar dan pola daun bervariasi dari lurus
sampai sangat bengkok. Jagung dengan tipe daun erect memiliki kanopi kecil sehingga dapat ditanam dengan populasi yang tinggi. Kepadatan tanaman yang tinggi diharapkan dapat memberikan hasil yang tinggi pula.

Bunga 

Jagung disebut juga tanaman berumah satu (monoeciuos) karena bunga jantan dan betinanya terdapat dalam satu tanaman. Bunga betina, tongkol, muncul dari axillary apices tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik tumbuh apikal di ujung tanaman. Pada tahap awal, kedua bunga memiliki primordia bunga biseksual. Selama proses perkembangan, primordia stamen pada axillary bunga tidak berkembang dan menjadi bunga betina. Demikian pula halnya primordia ginaecium pada apikal bunga, tidak berkembang dan menjadi bunga jantan (Palliwal 2000). Serbuk sari (pollen) adalah trinukleat. Pollen memiliki sel vegetatif, dua gamet jantan dan mengandung butiran-butiran pati. Dinding tebalnya terbentuk dari dua lapisan, exine dan intin, dan cukup keras. Karena adanya perbedaan perkembangan bunga pada spikelet jantan yang terletak di atas dan bawah
dan ketidaksinkronan matangnya spike, maka pollen pecah secara kontinu dari tiap tassel dalam tempo seminggu atau lebih. Rambut jagung (silk) adalah pemanjangan dari saluran stylar ovary yang matang pada tongkol. Rambut jagung tumbuh dengan panjang hingga 30,5 cm atau lebih sehingga keluar dari ujung kelobot. Panjang rambut jagung bergantung pada panjang tongkol dan kelobot. Tanaman jagung adalah protandry, di mana pada sebagian besar varietas, bunga jantannya muncul (anthesis) 1-3 hari sebelum rambut bunga betina muncul (silking). Serbuk sari (pollen) terlepas mulai dari spikelet yang terletak pada spike yang di tengah, 2-3 cm dari ujung malai (tassel), kemudian turun ke bawah. Satu bulir anther melepas 15-30 juta serbuk sari. Serbuk sari sangat ringan dan jatuh karena gravitasi atau tertiup angin sehingga terjadi penyerbukan silang. Dalam keadaan tercekam (stress) karena kekurangan air, keluarnya rambut tongkol kemungkinan tertunda, sedangkan keluarnya malai tidak terpengaruh. Interval antara keluarnya
bunga betina dan bunga jantan (anthesis silking interval, ASI) adalah hal yang sangat penting. ASI yang kecil menunjukkan terdapat sinkronisasi pembungaan, yang berarti peluang terjadinya penyerbukan sempurna
sangat besar. Semakin besar nilai ASI semakin kecil sinkronisasi pembungaan dan penyerbukan terhambat sehingga menurunkan hasil. Cekaman abiotis umumnya mempengaruhi nilai ASI, seperti pada cekaman kekeringan dan temperatur tinggi.
Penyerbukan pada jagung terjadi bila serbuk sari dari bunga jantan menempel pada rambut tongkol. Hampir 95% dari persarian tersebut berasal dari serbuk sari tanaman lain, dan hanya 5% yang berasal dari serbuk sari tanaman sendiri. Oleh karena itu, tanaman jagung disebut tanaman bersari silang (cross pollinated crop), di mana sebagian besar dari serbuk sari berasal dari tanaman lain. Terlepasnya serbuk sari berlangsung 3-6 hari, bergantung pada varietas, suhu, dan kelembaban. Rambut tongkol tetap reseptif dalam 3-8 hari. Serbuk sari masih tetap hidup (viable) dalam 4-16 jam sesudah terlepas (shedding). Penyerbukan selesai dalam 24-36 jam dan biji mulai terbentuk sesudah 10-15 hari. Setelah penyerbukan, warna rambut tongkol berubah menjadi coklat dan kemudian kering.

Tongkol dan Biji
Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas.
Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak
pada bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar
dibanding yang terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-
16 baris biji yang jumlahnya selalu genap.
Biji jagung disebut kariopsis, dinding ovari atau perikarp menyatu dengan
kulit biji atau testa, membentuk dinding buah. Biji jagung terdiri atas tiga
bagian utama, yaitu (a) pericarp, berupa lapisan luar yang tipis, berfungsi
mencegah embrio dari organisme pengganggu dan kehilangan air; (b)
endosperm, sebagai cadangan makanan, mencapai 75% dari bobot biji yang
mengandung 90% pati dan 10% protein, mineral, minyak, dan lainnya; dan
(c) embrio (lembaga), sebagai miniatur tanaman yang terdiri atas plamule,
akar radikal, scutelum, dan koleoptil (Hardman and Gunsolus 1998).
Pati endosperm tersusun dari senyawa anhidroglukosa yang sebagian
besar terdiri atas dua molekul, yaitu amilosa dan amilopektin, dan sebagian
kecil bahan antara (White 1994). Namun pada beberapa jenis jagung
terdapat variasi proporsi kandungan amilosa dan amilopektin. Protein
endosperm biji jagung terdiri atas beberapa fraksi, yang berdasarkan
kelarutannya diklasifikasikan menjadi albumin (larut dalam air), globumin
(larut dalam larutan salin), zein atau prolamin (larut dalam alkohol
konsentrasi tinggi), dan glutein (larut dalam alkali). Pada sebagian besar
jagung, proporsi masing-masing fraksi protein adalah albumin 3%, globulin
3%, prolamin 60%, dan glutein 34% (Vasal 1994).
Berdasarkan bentuk dan strukturnya biji jagung dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
Jagung Mutiara (Flint Corn), Zea mays indurate
Biji jagung tipe mutiara berbentuk bulat licin, mengkilap, dan keras. Bagian
pati yang keras terdapat di bagian atas biji. Pada saat masak, bagian atas biji
mengkerut bersama-sama, sehingga permukaan biji bagian atas licin dan
bulat.
Varietas lokal jagung di Indonesia umumnya tergolong ke dalam tipe biji
mutiara. Tipe ini disukai petani karena tahan hama gudang.

Gambar 4. Biji jagung dan bagian-bagiannya.









Jagung Gigi Kuda (Dent Corn), Zea mays indentata
Bagian pati yang keras pada tipe biji dent berada di bagian sisi biji, sedangkan
bagian pati yang lunak di bagian tengah sampai ujung biji. Pada waktu biji
mengering, pati lunak kehilangan air lebih cepat dan lebih mengkerut
daripada pati keras, sehingga terjadi lekukan (dent) pada bagian atas biji.
Biji tipe dent ini bentuknya besar, pipih, dan berlekuk.

Jagung Manis (Sweet Corn), Zea mays saccharata
Biji jagung manis pada saat masak keriput dan transparan. Biji yang belum
masak mengandung kadar gula (water-soluble polysccharride, WSP) lebih
tinggi daripada pati. Kandungan gula jagung manis 4-8 kali lebih tinggi
dibanding jagung normal pada umur 18-22 hari setelah penyerbukan. Sifat
ini ditentukan oleh gen sugary (su) yang resesif (Tracy 1994).

Jagung Pod, Z. tunicata Sturt
Jagung pod adalah jagung yang paling primitif. Jagung ini terbungkus oleh
glume atau kelobot yang berukuran kecil. Jagung pod tidak dibudidayakan
secara komersial sehingga tidak banyak dikenal. Kultivar Amerika Selatan
dimanfaatkan oleh suku Indian dalam upacara adat karena dipercaya
memiliki kekuatan magis.

Jagung Berondong (Pop Corn), Zea mays everta
Tipe jagung ini memiliki biji berukuran kecil. Endosperm biji mengandung
pati keras dengan proporsi lebih banyak dan pati lunak dalam jumlah sedikit
terletak di tengah endosperm. Apabila dipanaskan, uap akan masuk ke
dalam biji yang kemudian membesar dan pecah (pop).

Jagung Pulut (Waxy Corn), Z. ceritina Kulesh
Jagung pulut memiliki kandungan pati hampir 100% amilopektin. Adanya
gen tunggal waxy (wx) bersifat resesif epistasis yang terletak pada kromosom
sembilan mempengaruhi komposisi kimiawi pati, sehingga akumulasi
amilosa sangat sedikit (Fergason 1994).

Jagung QPM (Quality Protein Maize)
Jagung QPM memiliki kandungan protein lisin dan triptofan yang tinggi
dalam endospermnya. Jagung QPM mengandung gen opaque-2 (o2) bersifat
resesif yang mengendalikan produksi lisin dan triptofan. Prolamin menyusun
sebagian besar protein endosperm dengan kandungan lisin dan triptofan
yang jauh lebih rendah dibanding fraksi protein lain. Fraksi albumin, globulin,
Subekti et al.: Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung 23
dan glutein memiliki kandungan lisin dan triptofan tinggi. Gen o2 dalam
ekspresinya mengubah proporsi kandungan fraksi-fraksi protein. Fraksi
prolamin berkurang hingga 50%, sedangkan sintesis albumin, globulin, dan
glutein meningkat. Kandungan lisin dan triptofan jagung QPM meningkat,
sementara sintesis prolamin memiliki kandungan lisin rendah (Vasal 1994).
Kandungan protein yang tinggi dalam endosperm memberikan warna
gelap pada biji.

Jagung Minyak Tinggi (High-Oil)
Jagung minyak tinggi memiliki biji dengan kandungan minyak lebih dari 6%,
sementara sebagian besar jagung berkadar minyak 3,5-5%. Sebagian besar
minyak biji terdapat dalam scutelum, yaitu 83-85% dari total minyak biji.
Jagung minyak tinggi sangat penting dalam industri makanan, seperti
margarin dan minyak goreng, serta industri pakan. Ternak yang diberi pakan
jagung minyak tinggi berdampak positif terhadap pertumbuhannya
(Lambert 1994). Jagung minyak tinggi memiliki tipe biji bermacam-macam,
bisa dent atau flint.

FASE PERTUMBUHAN DAN PERKECAMBAHAN

Secara umum jagung mempunyai pola pertumbuhan yang sama, namun
interval waktu antartahap pertumbuhan dan jumlah daun yang berkembang
dapat berbeda. Pertumbuhan jagung dapat dikelompokkan ke dalam tiga
tahap yaitu (1) fase perkecambahan, saat proses imbibisi air yang ditandai
dengan pembengkakan biji sampai dengan sebelum munculnya daun
pertama; (2) fase pertumbuhan vegetatif, yaitu fase mulai munculnya daun
pertama yang terbuka sempurna sampai tasseling dan sebelum keluarnya
bunga betina (silking), fase ini diidentifiksi dengan jumlah daun yang
terbentuk; dan (3) fase reproduktif, yaitu fase pertumbuhan setelah silking
sampai masak fisiologis.
Perkecambahan benih jagung terjadi ketika radikula muncul dari kulit
biji. Benih jagung akan berkecambah jika kadar air benih pada saat di dalam
tanah meningkat >30% (McWilliams et al. 1999). Proses perkecambahan
benih jagung, mula-mula benih menyerap air melalui proses imbibisi dan
benih membengkak yang diikuti oleh kenaikan aktivitas enzim dan respirasi
yang tinggi. Perubahan awal sebagian besar adalah katabolisme pati, lemak,
dan protein yang tersimpan dihidrolisis menjadi zat-zat yang mobil, gula,
asam-asam lemak, dan asam amino yang dapat diangkut ke bagian embrio
yang tumbuh aktif. Pada awal perkecambahan, koleoriza memanjang
menembus pericarp, kemudian radikel menembus koleoriza. Setelah radikel
muncul, kemudian empat akar seminal lateral juga muncul. Pada waktu
yang sama atau sesaat kemudian plumule tertutupi oleh koleoptil. Koleoptil
terdorong ke atas oleh pemanjangan mesokotil, yang mendorong koleoptil
ke permukaan tanah. Mesokotil berperan penting dalam pemunculan
kecambah ke atas tanah. Ketika ujung koleoptil muncul ke luar permukaan
tanah, pemanjangan mesokotil terhenti dan plumul muncul dari koleoptil
dan menembus permukaan tanah.
Benih jagung umumnya ditanam pada kedalaman 5-8 cm. Bila
kelembaban tepat, pemunculan kecambah seragam dalam 4-5 hari setelah
tanam. Semakin dalam lubang tanam semakin lama pemunculan kecambah
ke atas permukaan tanah. Pada kondisi lingkungan yang lembab, tahap
pemunculan berlangsung 4-5 hari setelah tanam, namun pada kondisi yang
dingin atau kering, pemunculan tanaman dapat berlangsung hingga dua
minggu setelah tanam atau lebih.
Keseragaman perkecambahan sangat penting untuk mendapatkan hasil
yang tinggi. Perkecambahan tidak seragam jika daya tumbuh benih rendah.
Tanaman yang terlambat tumbuh akan ternaungi dan gulma lebih bersaing
dengan tanaman, akibatnya tanaman yang terlambat tumbuh tidak normal
dan tongkolnya relatif lebih kecil dibanding tanaman yang tumbuh lebih
awal dan seragam.

Gambar 5. Perkecambahan benih jagung.

Setelah perkecambahan, pertumbuhan jagung melewati beberapa fase berikut:

Fase V3-V5 (jumlah daun yang terbuka sempurna 3-5)
Fase ini berlangsung pada saat tanaman berumur antara 10-18 hari setelah
berkecambah. Pada fase ini akar seminal sudah mulai berhenti tumbuh,
akar nodul sudah mulai aktif, dan titik tumbuh di bawah permukaan tanah.
Suhu tanah sangat mempengaruhi titik tumbuh. Suhu rendah akan
memperlambat keluar daun, meningkatkan jumlah daun, dan menunda
terbentuknya bunga jantan (McWilliams et al. 1999).

Fase V6-V10 (jumlah daun terbuka sempurna 6-10)
Fase ini berlangsung pada saat tanaman berumur antara 18 -35 hari setelah
berkecambah. Titik tumbuh sudah di atas permukaan tanah, perkembangan
akar dan penyebarannya di tanah sangat cepat, dan pemanjangan batang
meningkat dengan cepat. Pada fase ini bakal bunga jantan (tassel) dan
perkembangan tongkol dimulai (Lee 2007). Tanaman mulai menyerap hara
dalam jumlah yang lebih banyak, karena itu pemupukan pada fase ini
diperlukan untuk mencukupi kebutuhan hara bagi tanaman (McWilliams
et al. 1999).

Fase V11- Vn (jumlah daun terbuka sempurna 11 sampai daun terakhir
15-18)
Fase ini berlangsung pada saat tanaman berumur antara 33-50 hari setelah
berkecambah. Tanaman tumbuh dengan cepat dan akumulasi bahan kering
meningkat dengan cepat pula. Kebutuhan hara dan air relatif sangat tinggi
untuk mendukung laju pertumbuhan tanaman. Tanaman sangat sensitif
terhadap cekaman kekeringan dan kekurangan hara. Pada fase ini,
kekeringan dan kekurangan hara sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan
dan perkembangan tongkol, dan bahkan akan menurunkan
jumlah biji dalam satu tongkol karena mengecilnya tongkol, yang akibatnya
menurunkan hasil (McWilliams et al. 1999, Lee 2007). Kekeringan pada fase
ini juga akan memperlambat munculnya bunga betina (silking).

Fase Tasseling (berbunga jantan)
Fase tasseling biasanya berkisar antara 45-52 hari, ditandai oleh adanya
cabang terakhir dari bunga jantan sebelum kemunculan bunga betina (silk/
rambut tongkol). Tahap VT dimulai 2-3 hari sebelum rambut tongkol muncul,
di mana pada periode ini tinggi tanaman hampir mencapai maksimum dan
mulai menyebarkan serbuk sari (pollen). Pada fase ini dihasilkan biomas
26 Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan
maksimum dari bagian vegetatif tanaman, yaitu sekitar 50% dari total bobot
kering tanaman, penyerapan N, P, dan K oleh tanaman masing-masing 60-
70%, 50%, dan 80-90%.

Fase R1 (silking)
Tahap silking diawali oleh munculnya rambut dari dalam tongkol yang
terbungkus kelobot, biasanya mulai 2-3 hari setelah tasseling. Penyerbukan
(polinasi) terjadi ketika serbuk sari yang dilepas oleh bunga jantan jatuh
menyentuh permukaan rambut tongkol yang masih segar. Serbuk sari
tersebut membutuhkan waktu sekitar 24 jam untuk mencapai sel telur
(ovule), di mana pembuahan (fertilization) akan berlangsung membentuk
bakal biji. Rambut tongkol muncul dan siap diserbuki selama 2-3 hari.
Rambut tongkol tumbuh memanjang 2,5-3,8 cm/hari dan akan terus
memanjang hingga diserbuki. Bakal biji hasil pembuahan tumbuh dalam
suatu struktur tongkol dengan dilindungi oleh tiga bagian penting biji, yaitu
glume, lemma, dan palea, serta memiliki warna putih pada bagian luar biji.
Bagian dalam biji berwarna bening dan mengandung sangat sedikit cairan.
Pada tahap ini, apabila biji dibelah dengan menggunakan silet, belum terlihat
struktur embrio di dalamnya. Serapan N dan P sangat cepat, dan K hampir
komplit (Lee 2007).

Fase R2 (blister)
Fase R2 muncul sekitar 10-14 hari seletelah silking, rambut tongkol sudah
kering dan berwarna gelap. Ukuran tongkol, kelobot, dan janggel hampir
sempurna, biji sudah mulai nampak dan berwarna putih melepuh, pati
mulai diakumulasi ke endosperm, kadar air biji sekitar 85%, dan akan
menurun terus sampai panen.

Fase R3 (masak susu)
Fase ini terbentuk 18 -22 hari setelah silking. Pengisian biji semula dalam
bentuk cairan bening, berubah seperti susu. Akumulasi pati pada setiap biji
sangat cepat, warna biji sudah mulai terlihat (bergantung pada warna biji
setiap varietas), dan bagian sel pada endosperm sudah terbentuk lengkap.
Kekeringan pada fase R1-R3 menurunkan ukuran dan jumlah biji yang
terbentuk. Kadar air biji dapat mencapai 80%.

Fase R4 (dough)
Fase R4 mulai terjadi 24-28 hari setelah silking. Bagian dalam biji seperti
pasta (belum mengeras). Separuh dari akumulasi bahan kering biji sudah
terbentuk, dan kadar air biji menurun menjadi sekitar 70%. Cekaman
kekeringan pada fase ini berpengaruh terhadap bobot biji.
Subekti et al.: Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung 27
Gambar 6. Fase pertumbuhan tanaman jagung.

Fase R5 (pengerasan biji)
Fase R5 akan terbentuk 35-42 hari setelah silking. Seluruh biji sudah terbentuk
sempurna, embrio sudah masak, dan akumulasi bahan kering biji akan
segera terhenti. Kadar air biji 55%.

Fase R6 (masak fisiologis)
Tanaman jagung memasuki tahap masak fisiologis 55-65 hari setelah silking.
Pada tahap ini, biji-biji pada tongkol telah mencapai bobot kering maksimum.
Lapisan pati yang keras pada biji telah berkembang dengan sempurna dan
telah terbentuk pula lapisan absisi berwarna coklat atau kehitaman.
Pembentukan lapisan hitam (black layer) berlangsung secara bertahap,
dimulai dari biji pada bagian pangkal tongkol menuju ke bagian ujung
tongkol. Pada varietas hibrida, tanaman yang mempunyai sifat tetap hijau
(stay-green) yang tinggi, kelobot dan daun bagian atas masih berwarna
hijau meskipun telah memasuki tahap masak fisiologis. Pada tahap ini kadar
air biji berkisar 30-35% dengan total bobot kering dan penyerapan NPK oleh
tanaman mencapai masing-masing 100%.
http://pustaka.litbang.deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp10232.pdf

Wednesday, July 18, 2012

RPP IDENTIFIKASI TANAMAN DAN PERTUMBUHANNYA


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)


NAMA SEKOLAH                     :   SMKN I BEUNGGA
BIDANG STUDY KEAHLIAN   :  AGRIBISNIS DAN AGROTEKNOLOGI
PROGRAM STUDY                   :   AGRIBISNIS PRODUKSI TANAMAN
KOMPETENSI KEAHLIAN       :  AGRIBISNIS TANAMAN PANGAN & HORTIKULTURA
MATA PELAJARAN                 :   KOMPETENSI KEJURUAN/KEAHLIAN
KELAS / SEMESTER                 :   X / GENAP
ALOKASI WAKTU                   :   68 JAM ( 4 JAM / MG)
KODE  KOMPETENSI              :   DKK.TPH.002

STANDAR KOMPETENSI       :  MENGIDENTIFIKASI TANAMAN DAN PERTUMBUHANNYA                    
                                      
KOMPETENSI DASAR            : 1. Mengenal lingkup tanaman yang diusahakan

INDIKATOR                             : 1. Tanaman pangan diidentifikasi dan disebut sesuai nama umumnya atau botaninya
2.  Tanaman kelompok hortikultura diidentifikasi dan disebut sesuai nama botaninya
3.  Ciri ciri tanaman pangan diidentifikasi dan dideskripsikan secara lengkap atas dasar morfologi dan persyaratan tumbuh
4.  Ciri ciri tanaman pangan diidentifikasi dan dideskripsikan secara lengkap atas dasar morfologi dan persyaratan tumbuh
5.  Hasil identifikasi jenis tanaman dicatat dan dikomunikasikan kepada pihak berwenang guna keperluan perencanaan, pelaksanaan dan pengembangan usaha.

                                                    

I.   TUJUAN PEMBELAJARAN

·        Siswa dapat mengidentifikasi Tanaman pangan dan menyebutkan sesuai nama umumnya atau botaninya
·        Siswa dapat mengidentifikasi Tanaman hortikultura dan menyebutkan sesuai nama botaninya
·        Siswa dapat mengidentifikasi Ciri ciri tanaman pangan dan mendeskripsikan secara lengkap atas dasar morfologi dan persyaratan tumbuh
·        Siswa dapat mengidentifikasi Ciri ciri tanaman hortikultura dan mendeskripsikan secara lengkap atas dasar morfologi dan persyaratan tumbuh
·        Siswa dapat mencatat identifikasi jenis tanaman dan dapat mengkomunikasikan kepada pihak berwenang guna keperluan perencanaan, pelaksanaan dan pengembangan usaha

II.  MATERI AJAR
Ø      Mengelompokkan tananam pangan yang dibudidayakan
Ø      Mengelompokkan tananam Hortikultura yang dibudidayakan
Ø      Deskripsi tanaman yang diusahakan (Taksonomi, Fisiologis dan Morfologi)
Ø      Catatan hasil identifikasi jenis tanaman


III. METODA PEMBELAJARAN
·        Ceramah
·        Diskusi
·        Tanya jawab
·         Praktik Sekolah dan Lapangan


IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
      A. Kegiatan awal
·         Absensi
·         Guru memotivasi siswa
·         Guru memberikan lembaran informasi (jika ada)
·         Siswa menyiapkan alat tulis

      B. Kegiatan inti
  • Siswa mencatat semua materi yang diberikan oleh guru
  • Siswa bertanya dan berdiskusi tentang materi pelajaran dengan guru.
  • Siswa membuat kesimpulan

C. Kegiatan akhir
  • Menyimpulkan hasil kegiatan belajar mengajar
  • Mencatat hal-hal yang penting
  • Memberi tugas kepada siswa untuk mencari referensi yang relevan sebagai pengayaan
  • Evaluasi sebagai umpan balik

V. ALAT/BAHAN SUMBER BELAJAR
  • Alat dan bahan penunjang percobaan
  • Artikel dari berbagai media

VI. PENILAIAN
1. Tes Tertulis:
    Soal
1.   identifikasi 5 Tanaman pangan dan sebutkan sesuai nama umumnya atau botaninya
2.       identifikasi 5 Tanaman hortikultura dan sebutkan sesuai nama botaninya
3.        identifikasi Ciri ciri 2 jenis tanaman pangan  atas dasar morfologi dan persyaratan tumbuh
4.        identifikasi Ciri ciri 2 tanaman hortikultura  atas dasar morfologi dan persyaratan tumbuh


    Jawaban
    1. .........................................
    2. ..........................................
    3. .........................................
    4. .........................................
    
2. Tes Praktek
     ...............................................

3. Tugas-Tugas
·        siswa membuat ..............................................  tentang ........................... ................................ dan menyerahkan hasilnya kepada guru
·        siswa mengumpulkan berbagai artikel tentang ....................................... dan menyerahkan kepada guru





KOMPETENSI DASAR            : 2. Menjelaskan tanah sebagai tempat tumbuh tanaman
            
INDIKATOR                             : 1. Tanah sebagai tempat tumbuh tanaman diidentifikasi
2.  Diketahui dengan jelas data agronomi tempat budidaya tanaman


I.   TUJUAN PEMBELAJARAN

·        Siswa dapat  memahami faktor tanah
·        Siswa dapat memahami jenis tanah
·        Siswa dapat memahami sifat tanah (fisik, kimia dan biologi)
·        Siswa dapat mengamati profil tanah
·        Siswa dapat mengukur suhu dan kelembaban tanah
·        Siswa dapat memahami sifat kimia tanah
·        Siswa dapat menghitung kemiringan tanah
·        Siswa dapat mengamati ketinggian tanah
·        Siswa dapat mengukur pH tanah


II.  MATERI AJAR
Ø      Pengertian tanah dan fungsi tanah
Ø      Sifat fisik tanah (jenis, susunan tanah, ketinggian, kemiringan, tekstur dan struktur tanah, air tanah)
Ø      Sifat kimia tanah (pH, unsur hara)

III. METODA PEMBELAJARAN
·        Ceramah
·        Diskusi
·        Tanya jawab
·         Mengadakan percobaan


IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
      A. Kegiatan awal
·         Absensi
·         Guru memotivasi siswa
·         Guru memberikan lembaran informasi (jika ada)
·         Siswa menyiapkan alat tulis

      B. Kegiatan inti
  • Siswa mencatat semua materi yang diberikan oleh guru
  • Siswa bertanya dan berdiskusi tentang materi pelajaran dengan guru.
  • Siswa membuat kesimpulan

C. Kegiatan akhir
  • Menyimpulkan hasil kegiatan belajar mengajar
  • Mencatat hal-hal yang penting
  • Memberi tugas kepada siswa untuk mencari referensi yang relevan sebagai pengayaan
  • Evaluasi sebagai umpan balik

V. ALAT/BAHAN SUMBER BELAJAR
  • Alat dan bahan penunjang percobaan
  • Artikel dari berbagai media

VI. PENILAIAN
1. Tes Tertulis:
    Soal
    1. Jelaskan yang disebut faktor tanah  
    2. Jelaskan jenis jenis tanah
    3. Jelaskan sifat fisik tanah, kimia tanah dan biologi tanah
    4. Jelaskan teknik mengukur suhu dan kelembaban tanah
    5. Jelaskan teknik menghitung kemiringan tanah
    6. Jelaskan teknik mengukur ketinggian tanah
    7. Jelaskan cara mengukur pH tanah.


    Jawaban
    1. .........................................
    2. ..........................................
    3. .........................................
    4. .........................................
    5. .........................................
6. ............................................
7. .............................................

2. Tes Praktek
     Siswa di uji satu persatu secara lisan kemampuannya memahami tentang tanah yang berfungsi sebagai tempat tumbuh tanaman

3. Tugas-Tugas
·        siswa mencatat data agronomi tanaman di daerah masing masing dan mengumpulkan laporan kepada guru bidang study





KOMPETENSI DASAR            :  Menjelaskan cuaca sebagai faktor penting bagi tanaman

                                    
INDIKATOR                             : 1. Data agroklimat diperoleh/dikumpulkan melalui data sekunder
2.  Data curah hujan, suhu dan kelembaban dikumpulkan dan dicatat melalui pengukuran dilapangan
3.  Data agroklimat dikumpulkan dan disimpan untuk bahan pertimbangan dalam perencanaan usaha tanaman

I.   TUJUAN PEMBELAJARAN

·        Siswa dapat  menyebutkan jenis jenis data agroklimat
·        Siswa dapat memahami satuan curah hujan, suhu dan kelembaban
·        Siswa dapat menjelaskan teknik pengumpulan dan penyimpanan data
·        Siswa dapat mengumpulkan dan mencatat data curah hujan, suhu dan kelembaban udara


II.  MATERI AJAR
§         Data agroklimat berupa curah  hujan, suhu, udara, dan  kelembaban udara

III. METODA PEMBELAJARAN
·        Ceramah
·        Diskusi
·        Tanya jawab
·         Mengadakan percobaan


IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
      A. Kegiatan awal
·         Absensi
·         Guru memotivasi siswa
·         Guru memberikan lembaran informasi (jika ada)
·         Siswa menyiapkan alat tulis

      B. Kegiatan inti
  • Siswa mencatat semua materi yang diberikan oleh guru
  • Siswa bertanya dan berdiskusi tentang materi pelajaran dengan guru.
  • Siswa membuat kesimpulan

C. Kegiatan akhir
  • Menyimpulkan hasil kegiatan belajar mengajar
  • Mencatat hal-hal yang penting
  • Memberi tugas kepada siswa untuk mencari referensi yang relevan sebagai pengayaan
  • Evaluasi sebagai umpan balik

V. ALAT/BAHAN SUMBER BELAJAR
  • Alat dan bahan penunjang percobaan
  • Artikel dari berbagai media

VI. PENILAIAN
1. Tes Tertulis:
    Soal
1.      Sebutkan jenis jenis data agroklimat
2.      Sebutkan teknik mengukur curah hujan, suhu dan kelembaban udara
3.      Jelaskan teknik pengumpulan dan penyimpanan data


    Jawaban
    1. .........................................
    2. ..........................................
    3. .........................................
   
2. Tes Praktek
     Siswa di uji satu persatu kemampuan melakukan pengukuran data cuurah hujan, suhu dan kelembaban udara

3. Tugas-Tugas
·        .......................................................................






KOMPETENSI DASAR         : Menjelaskan Sistim produksi tanaman

                                   
INDIKATOR                          : 1. Siklus hidup tanaman diamati dan dicatat sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman
                                                  2. Proses fisiologis tanaman dideskripsikan dengan tepat


I.   TUJUAN PEMBELAJARAN

·        Siswa dapat Memahami siklus hidup tanaman.
·        Siswa dapat Melakukan pengamatan pertumbuhan tanaman satu silkus hidup
·        Siswa dapat Memahami proses fisioliogis tanaman (fotosintesis, respirasi, transpirasi, absoprsi, penyerbukan dan pembuahan)


II.  MATERI AJAR
·        Siklus hidup tanaman
·        Proses fisiologis tanaman

III. METODA PEMBELAJARAN
·        Ceramah
·        Diskusi
·        Tanya jawab
·         Mengadakan percobaan


IV. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
      A. Kegiatan awal
·         Absensi
·         Guru memotivasi siswa
·         Guru memberikan lembaran informasi (jika ada)
·         Siswa menyiapkan alat tulis

      B. Kegiatan inti
  • Siswa mencatat semua materi yang diberikan oleh guru
  • Siswa bertanya dan berdiskusi tentang materi pelajaran dengan guru.
  • Siswa membuat kesimpulan

C. Kegiatan akhir
  • Menyimpulkan hasil kegiatan belajar mengajar
  • Mencatat hal-hal yang penting
  • Memberi tugas kepada siswa untuk mencari referensi yang relevan sebagai pengayaan
  • Evaluasi sebagai umpan balik

V. ALAT/BAHAN SUMBER BELAJAR
  • Alat dan bahan penunjang percobaan
  • Artikel dari berbagai media

VI. PENILAIAN
1. Tes Tertulis:
    Soal
1.      Jelaskan siklus hidup tanaman kedelai dan jagung
2.      Jelaskan perbedaan grafik pertumbuhan tanaman kedelai dan jagung
3.      Jelaskan proses fotosintesis, respirasi, transpirasi, absoprsi, penyerbukan dan pembuahan


    Jawaban
    1. .........................................
    2. ..........................................
    3. .........................................
   
2. Tes Praktek
     Siswa diamati ketika sedang melaksanakan pengamatan pertumbuhan tanaman

3. Tugas-Tugas
·        .......................................................................




Kepala SMK Negeri 1 Beungga





Tarmizi, S.Pd
NIP. 19651231 198701 1 011
Beungga, 16 Juli 2012
Guru Mata Pelajaran




CHUMAIDI, SP
NIP. 19760729 200604 1 015


jika anda membutuhkan file RPP ini silakan Klik DISINI













Share it

Kegiatan ABI

Loading...

Sekilas Info

Loading...

Daily Calendar

SMS Gratis